Naik Motor atau Transjakarta di Jakarta? Inilah alasan saya

Ibu mengira bahwa alasan saya menjual motor bulan lalu adalah karena saya sudah kehabisan uang. Maklum, hidup merantau di Jakarta sendirian membuat Ibu saya khawatir, sehingga menawarkan untuk mengirim uang apabila saya butuh. Ada juga yang berasumsi saya akan resign kerja dan balik ke Jawa Timur bahkan ada yang mengira saya butuh duit untuk membeli skin mobile legends. Kan ga sampai segitunya juga kali!

Jual Motor Thunder

Alasan saya jual motor selain karena memang butuh uang, juga karena itu motor second dan tahun depan harus ganti plat nomor. Jadi perlu balik nama, yang menurut saya itu membutuhkan waktu dan tenaga yang lumayan berat. KTP saya bukan Jakarta, jadi perlu ngurus ke Jawa Timur. Akhirnya saya jual saja. Eh ada 1 lagi dink alasan yang lebih penting, yaitu sebenarnya juga karena ingin membantu Gubernur Anies Baswedan mengurangi polusi udara yang ada di Jakarta. Tahu sendiri kan soal polusi ini sempat ramai di media? Hehee..

Berikut ini ada infografis dari beritagar yang menunjukkan kondisi udara Jakarta dan beberapa tempat di Indonesia, serta ranking kualitas udara di dunia.

Udara Jakarta

Hampir 2 minggu ini saya hidup tanpa motor, akhirnya saya merasakan lagi bagaimana harus naik kendaraan umum. Saya mengamati dan tersadar, ternyata orang-orang Jakarta sangat terbantu dengan adanya kendaraan umum tersebut. Jakarta sangat beruntung punya banyak pilihan kendaraan umum, salah satunya transjakarta. Berikut ini saya coba rangkumkan apa saja perbedaan naik transjakarta dan motor pribadi menurut saya.

No

Motor

Transjakarta

1

30 menit (kos-kantor) 1 jam (kos-kantor)

2

Isi BBM Taping Kartu
3

Resiko terjebak macet

Ga kerasa macet

4 Bisa bangun agak siang

Harus bangun pagi

5

Bayar parkir Gak perlu mikir parkir

6

40 ribu/2 minggu

35 ribu/minggu

7. Bayar pajak tahunan

Gak perlu bayar pajak

8.

Urus surat balik nama Gak perlu ngurus kecuali busnya kamu beli, haha
9. Risiko polusi, hujan, dan kepanasan

Ga kehujanan atau kepanasan tapi harus rela berdesakan

10. Biaya perawatan motor

Bisa dialihkan untuk merawat diri, hehe

Ada beberapa kebiasaan pagi saya yang berubah sejak naik transjakarta, seperti tidak perlu memanaskan mesin motor dan tidak perlu pergi ke pom untuk isi BBM. Saat ini yang perlu saya lakukan adalah bangun lebih pagi, segera mandi, berpakaian, dan berangkat ke halte. Itu ekspektasi saya. Realitanya saya masih bangun kesiangan, bahkan 3 hari berturut-turut saya telat ke kantor dan sudah mendapat teguran dari bos. Duh!

Itulah risiko tidak memakai kendaraan pribadi ke kantor, tapi ga masalah, karena dulu juga saya gak ada motor. Pasti bisa kembali terbiasa menggunakan trasjakarta. Dulu saat naik transjakarta bisa jauh lebih pagi sampai ke kantor. Saat ini pasti juga bisa. Saya sedang berusaha untuk membiasakan kembali bangun pagi. Menurut saya, hal tersulit adalah menghilangkan kebiasaan berangkat agak siang. Saat naik motor, saya sudah biasa berangkat pukul 07.30  WIB dari kos. Tidak telat dan juga tidak kepagian. Sedangkan sekarang setidaknya pukul 07.00 harus sudah di halte busway.

Oh iya, negatifnya naik transjakarta memang saya jadi telat ke kantor, tapi tentu ada positifnya juga. Apa itu? Selama perjalanan menuju tempat kerja menggunakan trasjakarta, saya jadi bisa dengerin podcast di Inspigo. Kalau sedang rajin-rajinya saya dapat nyicil membaca 2 atau 3 lembar buku. Mantap, kan?

Kamu yang pernah merantau di Jakarta, lebih suka pakai kendaraan pribadi atau naik transjakarta, guys?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.